Tampilkan postingan dengan label Articles. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Articles. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Oktober 2008

As I Lay Dying Live in Jakarta



Active Image

As I Lay Dying adalah band metalcore asal San Diego California. Band yang memiliki gaya bermusik yang cukup unik ini menggabungkan musik metal yang berbasis pada riff riff melodius ala Gothenburg Sound , seperti In Flames dan At The Gates dengan komposisi ringan ala musik Punk sehingga mudah dicerna dan disimak bahkan oleh para pendengar musik rock/metal yang terhitung baru mendengar lagu lagu dari mereka. Nama band ini berasal dari novel William Faulkner yang dicetak sekitar tahun 1930’an berjudul As I Lay Dying yang menceritakan kehidupan keluarga petani Amerika yang religius.Band ini kini digawangi oleh Tim Lambesis,sebagai vokalis,dan leader dari band ini, kemudian drummer muda enerjik dan sangat berbakat Jordan Mancino. Dual shredder yang memperkuat dari sisi riff gitar, Nick Hipa dan Phil Sgrosso . Nick Hipa merupakan gitaris yang cukup menonjol dengan karakter sound yang berbeda dengan musik metalcore kebanyakan, karena boleh dibilang ‘terlalu melodius’ dan kurang tebal distorsinya, dan justru hal itu menambah karakter dari pattern2x lead gitar dari Nick, sementara karakter sound distorsi yang tebal dilapis oleh Phil yang memang memiliki background lebih kuat dibandingkan Nick .Sementara Josh Gilbert membantu Tim Lambesis sebagai clean vocalist dan juga bertanggung jawab sebagai pencabik bas.

As I Lay Dying merupakan band yang cukup terkenal di scene metal dunia karena meraih beberapa prestasi . Salah satu yang cukup fenomenal adalah dengan dinominasikan-nya lagu Nothing Left dalam ajang Grammy Awards di tahun 2008. Di tahun ini juga band ini dianugrahi penghargaan San Diego Music Award. Di tahun sebelumnya band ini memenangkan penghargaan Ultimate Metal God dari saluran TV musik terkenal di dunia MTV2 .

Band ini seringkali dicap sebagai band yang cukup religius, karena lirik lirik positifnya yang tergolong berbeda dengan band lain. Bila band lain banyak mengumbar kekerasan, kegelapan ,realita social, band ini justru mengangkat tema religius dan unsure spiritual positif dalam lagu-lagu mereka. Hal ini sempat membuat mereka digelari band metal spiritual. / white metal ,hal ini tercermin lewat rilisan mereka mulai dari Beneath The Encoding of Ashes, yang dirilis di tahun 2001 sampai pada album Shadows are Security yang dirilis tahun 2005.

Tim Lambesis seperti vokalis dan penulis lirik dari band ini mulai bereksperimen dengan lirik yang bertema sosial di album terakhir mereka “ An ocean between us “ yang dirilis tahun 2007 lalu, justru menambah greget dan karakter dari band ini, lirik yang tidak preachy tapi mengajak ke sisi positif tergambar disini . Seiring dengan sambutan positif dari berbagai kritikus musik metal diseluruh dunia, juga band ini beberapa kali tampil dalam sampler majalah Metal Hammer sepanjang tahun 2007, tercatat penulis memiliki 2 edisi Metal Hammer yang memuat mengenai band ini. Bahkan album An Ocean .. ini berhasil menduduki peringkat Billboard 200 no.8 dan no 1 di bagian rock chart , sebuah prestasi yang cukup membanggakan bagi sebuah band yang masih terhitung masih baru diblantika musik rock/metal dunia. Tak salah bila Adam Dukiewicz , gitaris dari band KSE (Killswitch Engage) yang bisa dikatakan pelopor dari genre Metalcore ini memproduseri album An Ocean … dan tak lupa juga Andy Sneap sang maestro “modern sound of metal “ bertugas mengemas sound di album ini sehingga tampil lebih baik di banding album sebelumnya, Shadows are Security.

Dua nama yang menjadi jaminan kualitas sound yang ciamik dari sebuah album band metal saat ini. Album ini dirpduseri oleh gitaris Killswitch Engage Adam Dutkiewicz yang menjalin pertemanan dengan Tim dkk selama promo tour Shadows of Security . dan pada minggu pertama album ini dirilis berhasil menduduki peringkat 8 pada Billboard 200, dan no.1 pada Top Rock chart . Tercatat penjualan pada minggu pertama album ini menurut Ac Nielsen Soundscan adalah 39.000

Berbagai review dan kritik positif diluncurkan berbagai situs online dan majalah metal dunia seiring dengan dirilisnya album ini, tercatat about.com meberikan 3.5/5 allmusic.com memberikan 4 /5 bintang bahkan Cross Rhytms memberikan rating sempurna 10/10 untuk album ini. Kebanyakan review dan kritik tersebut menjurus pada kualitas sound yang baik dan didukung oleh komposisi lagu yang cukup baik yang disajikan oleh AILD di album ini. Dan tentunya anda pasti penasaran bila lagu lagu seperti Nothing Left, Within Destruction , Forsaken, an Ocean between Us dibawakan langsung di depan mata kita ? Maka nantikan show mereka nanti di Stadion Tennis Indoor Senayan tanggal 27 November 2008 !!

Minggu, 24 Agustus 2008

Underground Kita Berbeda

Jika dirunut pada sejarah masuknya musik rock ke Indonesia, khususnya kota Bandung, diawali sejak tahun 70-an. Musik rock yang masuk ke Indonesia adalah musik rock yang berasal dari benua Amerika dan Eropa. Pada tahun 50-60an tatanan nilai dan budaya benua Eropa dan Amerika masih sangat konservatif. Nilai-nilai budaya baru yang diciptakan oleh para generasi muda pada saat itu dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan dianggap sebagai ide-ide yang subversif. Pada tahun 50-an para seniman di Prancis dan Inggris biasa mengekspresikan karya-karya mereka di subway atau stasiun kereta api bawah tanah. Karena mereka tidak pernah diberi akses oleh pemerintah pada fasilitas atau gedung-gedung kesenian pada saat itu. Karena dinilai karya-karya mereka mengandung muatan-muatan pemberontakan pada pemerintahan dan dianggap menghujat nilai-nilai konservatif gereja pada saat itu. Utamanya pada saat itu di benua Eropa telah mengalami puncak kejayaan dari sebuah revolusi di berbagai bidang kesenian. Sehingga cenderung menolak hal-hal baru karena dianggap bisa merusak tatanan kemapanan yang sudah terbentuk. Sementara kaum mudanya merasakan sebuah kondisi stagnasi dan kebosanan. Setiap malam para seniman-seniman itu berkumpul mengekspresikan berbagai macam karya 'avant garde' mereka. Dari mulai pentas musik, teater, seni rupa, puisi, performance art, hingga karya instalasi yang rumit. Mereka saling berekspresi dan saling mengapresiasi satu sama lain. Karya-karya yang dipertunjukan pada saat itu memang hanya diketahui oleh kalangan terbatas. Karya yang diciptakan pada saat itu menjadi semacam 'basic' bagi perkembangan semua karya seni yang ada sekarang. Dari sinilah istilah 'underground' untuk pertama kalinya muncul.

'Underground' Era Revolusi Industri

Di tahun yang sama juga benua Eropa mengalami revolusi industri. Ketika sektor-sektor industri di Eropa melakukan transformasi teknologi yang drastis. Demi efesiensi dan mempercepat kapasitas produksi pasca berakhirnya perang dunia kedua pabrik-pabrik di Eropa mengganti tenaga kerja manusia dengan mesin. Hal ini berdampak pada banyaknya pengangguran dan menimbulkan masalah sosial. Di Inggris lahirlah kelompok-kelompok buruh yang terkena PHK mengorganisir diri ke dalam kelompok berbagai organisasi 'working class'. Dengan dandanan khas rambut plontos t-shirt putih dan bersepatu boots dr.Martens, setiap malam mereka menggelar pentas-pentas musik di subway serta melakukan 'squat' atau reclaiming terhadap gedung-gedung kosong bergabung dengan para imigran dari Jamaika, Maroko, dan Afrika. Lirik yang disampaikan adalah lirik protes terhadap kondisi sosial dan kesetiakawanan. Dari sinilah muncul proses eksplorasi musik hingga terciptalah musik heavy yang dipelopori oleh kelahiran band Black Sabbath. Musik yang kelam dan lirik yang mengekplorasi sisi gelap manusia sebagai penyikapan terhadap kondisi sosial pada saat itu. Kelompok ini terbagi lagi menjadi beberapa ideologi. Ada yang cenderung fasis dan ultra nasionalis dan pastinya jadi rasis. Ada juga yang berideologi kesetaraan dan anarkis. Dari sinilah lahir budaya 'punk' dengan segala macam aktifitas seni dan gerakan politisnya.

Puncaknya adalah ketika terjadi peristiwa Paris '68 di Prancis. Pada saat itu mahasiswa sebagai bagian dari 'middle class' atau kaum intelektual melebur bersama para kaum 'underground' dan kaum miskin kota dalam hal ini korban PHK akibat dampak dari revolusi industri melakukan demonstrasi besar-besaran menuntut perbaikan ekonomi. Selama berminggu-minggu mereka membuat barikade di jalan-jalan kota Paris dan melakukan aksi mogok secara nasional. Hingga akhirnya pemerintah Prancis melakukan reformasi total di segala bidang. Salah satu alumnus peristiwa Paris '68 adalah Malcolm Mc Laren yang jadi manajer band punk rock kontroversial sepanjang masa, Sex Pistols.

'Underground' Era Flower Generation

Kondisi di Amerika kurang lebih sama. Di Amerika pada tahun 50-an masih menganut sistem politik apartheid dan perbudakan. Masyarakat sosial Amerika pada saat itu terbagi menjadi tiga kelas sosial utama. Kelas borjuis yaitu kaum pengusaha, birokrat dan agamawan yang cenderung rasis dan menjunjung tinggi semangat 'white supremacy'. Kaum tehnokrat yang terdiri kaum intelektual dan mahasiswa. Kaum buruh yang terdiri dari budak-budak kulit hitam. Pembagian strata sosial ini membawa dampak pada pola berkesenian. Pada saat itu para budak kulit hitam yang kebanyakan berasal dari benua afrika oleh hukum yang berlaku pada saat itu mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi. Gaji yang tidak sesuai dengan porsi kerja dan tindakan diskriminatif di segala bidang. Semua gerak langkah mereka dibatasi hingga menimbulkan rasa frustasi yang begitu mendalam.

Satu-satunya saluran ekspresi mereka adalah lewat media musik. Mereka biasanya dipisahkan dari lingkungan kulit putih dengan cara kolonisasi. Dibuatkan area perkampungan yang kumuh atau dikenal dengan istilah 'ghetto' dan sengaja dibuat miskin secara sistematis hingga menimbulkan kerawanan sosial. Setiap malam sehabis lelah bekerja mereka biasanya berkumpul dan memainkan musik. Musik yang diciptakan adalah musik yang sifatnya sangat personal. Musik yang menjadi ekspresi pribadi dalam mengekspresikan segala kesumpekan dalam diri. Lahirlah kemudian jazz dan blues. Musik yang cenderung instrumental. Karena pada saat itu membuat lirik yang bernada protes sosial apalagi dilakukan oleh kulit hitam merupakan pelanggaran berat. Mereka membentuk komunitas dan menggelar konser-konser sederhana di bar-bar kulit hitam. Saling berekspresi dan mengapresiasi sambil meneriakan protes-protes lewat nada-nada sendu dan bernuansa kelam. Kalaupun memakai lirik maka pengucapannya dilakukan dengan cepat, bergumam dan menggunakan 'bahasa kode' yang hanya dimengerti oleh komunitas itu sendiri. Musik yang pada saat itu sangat diharamkan untuk didengar apalagi dimainkan oleh kaum kulit putih.

Dari sinilah muncul sikap DIY [do-it-yourself]. Para musisi kulit hitam ini membuat perusahaan rekaman 'motown records' yang khusus memproduksi artis-artis kulit hitam dan mendistribusikannya ke setiap koloni-koloni yang tersebar di seantero benua Amerika. Mereka membuat jaringan komunikasi dan media komunitas kulit hitam. Mulai mengorganisir diri dalam gerakan yang lebih ke arah politis. Salah satunya organisasi 'black panther'. Lahirlah pionir pejuang-pejuang kemanusiaan yang mengusung isu kesetaraan hak, diantaranya Malcolm X dan Martin Luther King.

Hingga suatu saat Elvis Presley mendobrak budaya konservatif tersebut. Diam-diam dia mendatangi bar-bar kulit hitam yang menampilkan musik blues dan jazz. Dia terinspirasi dari aliran musik tersebut hingga digabungkan dengan musik country. Lahirlah rock & roll. Musik yang pada saat itu mengalami penolakan keras dari kaum konservatif dan kalangan gereja. Rock & roll pada jaman Elvis disebut sebagai 'musik pemuja setan'. Karena iramanya dianggap mendorong anak muda untuk berjoget seronok dan membangkang pada orangtua.

Ketika Amerika mengalami krisis ekonomi berkepanjangan akibat perang dunia kedua dan terlibat dalam perang Vietnam, beberapa kalangan seniman 'underground', kalangan akademisi dan para veteran perang menggelar aksi protes anti perang Vietnam serta menuntut perbaikan kehidupan sosial dan ekonomi. Mereka menggelar panggung-panggung festival musik secara besar-besaran. Contohnya adalah Woodstock pada tahun 1969. Panggung tersebut diisi oleh artis-artis multi-etnis. Meneriakan semangat yang sama, 'make peace not war'. Dari sinilah cikal bakal dari kaum hippies. Kaum 'flower generation' yang sudah bosan dengan segala kebijakan konservatif yang mereka nilai tidak sejalan dengan semangat perubahan jaman. Namun kembali gerakan ini tidak berlangsung lama dikarenakan terjadi proses komodifikasi dan eksploitasi besar-besaran oleh para pelaku industri mainstream. Terutama industri yang bergerak di bidang hiburan dan fashion. Pada akhirnya hanya dua elemen nilai itulah yang 'dijual' dan sampai ke khalayak. Band-band heavy metal pada era itu sudah tidak dianggap 'underground' lagi. Beberapa pelaku sub-kultur akhirnya menolak cara-cara tersebut dan lebih memilih kembali pada jalur 'underground' serta mengembangkan sistem mereka sendiri. Pada era 70-an para pelaku komunitas sub-kultur ini telah mampu menciptakan dan mengembangkan berbagai penyikapan alternative untuk melawan arus mainstream. Lahirnya industri indie label yang mengakomodir semangat independensi dan berbagai macam media independen adalah salah satu contohnya.

'Underground' Era Orla

Di Indonesia sendiri pada tahun 60-an ketika Soekarno masih berkuasa, perkembangan musik sangat dipengaruhi oleh kebijakan politik pada saat itu. Soekarno yang berkuasa mengambil poros Jakarta-Beijing-Moskow sebagai garis politiknya di masa perang dingin. Sehingga hal-hal yang sifatnya berbau Amerika dianggap sebagai sesuatu yang kontra revolusioner dan bentuk imperialisme budaya barat. Sehingga musik rock & roll pada saat itu dianggap 'menyesatkan' dan 'kebarat-baratan' serta dilarang dikonsumsi oleh anak muda Indonesia. Terlepas dari segala muatannya yang membawa pada semangat perubahan, segala sesuatu yang datang dari 'barat' pasti dilarang. Semua bentuk kesenian haruslah mengacu pada realisme sosialis dan tidak mengandung muatan borjuisme. Beberapa band seperti Koes Plus mendapatkan perlakuan represif dari aparat keamanan. Beberapa radio yang memutar musik rock & roll ditutup. Petugas keamanan rajin melakukan razia-razia ke tempat keramaian anak muda. Apabila kedapatan mengenakan setelan 'barat' pasti ditahan. Apabila ketahuan menggelar acara musik rock & roll atau istilah Soekarno disebut musik 'ngak-ngik-ngok' pasti dibubarkan. Sehingga pada saat itu beberapa musisi lokal menggelar acara-acara musik rock & roll secara sembunyi-sembunyi. Biasanya mereka bergerilya dari satu rumah ke rumah yang lain menghindari razia petugas keamanan. Dari sinilah awal lahirnya istilah 'underground' di Indonesia.


'Underground' Era Orba

Pasca Soekarno runtuh dimulailah era orde baru. Segala bentuk kesenian yang berasal dari barat mulai masuk dan ikut mempengaruhi perkembangan musik Indonesia. Kebijakan politik yang diambil pada saat itu lebih mengarah kepada politik pencitraan bahwa Indonesia adalah negara yang demokratis dan penuh dengan nuansa keterbukaan. Di tahun 1970-an, musik cadas tidak pernah menyebut dirinya sebagai komunitas musik indie, mengingat pada saat itu Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, atau Uriah Heep merupakan komoditas yang dianak-emaskan oleh industri major label di benua Amerika dan Eropa. Begitu pun dengan musik cadas di Indonesia semacam Giant Step, God Bless, Superkid, atau SAS yang lebih suka mengidentifikasikan dirinya sebagai musik 'underground'. Komunitas mereka sangat bangga dengan sebutan itu, mengingat tak semua orang suka akan musik yang kekuatan bunyinya jauh di atas 60 dB atau jauh di atas batas toleransi pendengaran manusia. Ada semacam pola imitasi yang berkembang pada saat itu. Terutama dari jenis musik yang dimainkan dan pola fashion. Sehingga yang terjadi adalah proses imitatif kebudayaan luar yang datang namun tidak mampu menyerap kondisi realitas yang terjadi di kultur lokal. Banyak band Indonesia pada saat itu yang mencoba menjadi Deep Purple, Led Zeppelin atau Black Sabbath. Mereka benar-benar meniru habis-habisan apa yang sedang terjadi di luar sana. Namun yang diadopsi hanya sebatas musikalitas dan fashionnya saja. Sementara isu-isu sosial yang terjadi pada tingkat lokal sama sekali tidak tersentuh. Mereka lebih memilih memproduksi karya dengan lirik yang dinilai 'aman' dan sebisa mungkin menghindari konflik dengan pemerintah yang totaliter. Fenomena yang dihasilkan pada era ini hanyalah fenomena 'aksi protes' yang diekspresikan dalam aksi panggung yang kontroversial, pemakaian obat bius dan seks bebas.

Walaupun ada beberapa band yang dianggap fenomenal pada masa itu namun hanya sebatas di paparan karya musikalitas dan tidak membawa perubahan secara radikal di tingkat masyarakat. Sementara stigma seniman di mata para akademisi terutama musisi rock adalah urakan, tidak mempunyai intelektualitas tinggi, dan bersikap apolitis. Sehingga muncul kesenjangan persepsi yang sangat lebar antara musisi dan kalangan akademisi pada saat itu. Sehingga beberapa gerakan mahasiswa pada saat itu tidak melibatkan musisi secara aktif. Karena apabila kesadaran untuk melakukan perubahan secara bersama-sama itu dimunculkan pada saat era tersebut sepertinya reformasi tidak perlu menunggu hingga tahun 1998.

Ada semacam kegagapan dalam menyikapi realitas perubahan. Di satu sisi kebebasan untuk menyerap segala informasi dari luar mulai terbuka di sisi yang lain proses pemasungan terhadap kebebasan berekspresi kembali terjadi, bahkan lebih mengerikan dibandingkan era Soekarno. Dan itu secara umum kondisi tersebut diterima begitu saja oleh kalangan musisi pada saat itu. Istilah 'underground' pada saat itu mengalami pergeseran makna. Hanya diartikan sebagai musik 'brang-breng-brong', aksi panggung teatrikal dan kontroversial serta komposisi musik yang rumit dipenuh skill-skill tingkat tinggi. Nilai-nilai perlawanan yang diusung hanya sebatas pada pemberontakan terhadap nilai feodalistik yang sudah mapan namun tidak secara kritis mencari alternatif baru dalam menciptakan nilai pembanding dan nilai tandingan. Baik itu media komunikasi independen maupun sistem ekonomi tandingan yang dikembangkan.

Sehingga yang terjadi adalah gerakan budaya tandingan yang coba disusun pada akhirnya ikut larut dalam dinamika budaya mainstream di mana segala sesuatunya hanya berorientasi pada permintaan pasar [market oriented]. Masa ini berlangsung hingga dekade tahun 80-an.

'Underground' di Ujungberung

Ketika pada tahun akhir 80-an arus globalisasi ikut melanda Indonesia. Investasi asing mulai masuk seiring dengan masuknya IMF ke Indonesia. Dan hal tersebut mulai berdampak bagi perkembangan musik 'underground' di Indonesia, khususnya di kota Bandung. Arus informasi yang kuat telah mendorong beberapa majalah dan rilisan kaset 'underground' dari luar negeri mulai masuk dan banyak dikonsumsi oleh musisi di Bandung. Di Ujungberung sendiri terjadi sebuah fenomena 'shock culture' yang hebat. Ketika lahan-lahan agraris yang produktif disulap oleh para investor asing menjadi lahan industri yang sarat polutan. Kultur bertani dan bercocok tanam yang kental dengan nuansa komunal tiba-tiba secara drastis dirubah menjadi kultur buruh/pekerja yang secara sistematis diarahkan menjadi mahluk asosial. Hal ini jelas berdampak pada perilaku masyarakat secara umum. Muncul konflik-konflik kepentingan lokal dalam menyikapi masalah tersebut. Pemuda sebagai bagian dari sebuah struktur masyarakat menyikapi masalah tersebut dengan mencari saluran-saluran ekspresi yang dinilai bisa mewakili gejolak perasaan mereka. Maka musik metal dijadikan media berekspresi yang dinilai sesuai dengan kondisi keresahan mereka. Musik yang cepat, agresif serta lirik-lirik protes yang sarkastik menjadi pelarian mereka.

Radikalisme Ideologi DIY Ujungberung

Tahun 1989 ada empat band pelopor di Ujungberung yang sudah memainkan komposisi lagu metal ekstrim semacam Napalm Death, Sepultura, Obituary, Carcass dan lain-lain. Mereka adalah Funeral, Necromancy, dan Orthodox. Mereka adalah angkatan pertama di Ujungberung yang mulai menanamkan radikalisme dalam mengekspresikan karya mereka. Ketika trend festival musik pada saat itu masih berkutat di hard rock dan slow rock, mereka dengan berani mengacak-ngacak panggung festival itu dengan komposisi thrash metal dan death metal. Tampilan fashion yang ofensif dan style musik yang bising mereka bergerilya dari satu panggung festival ke festival yang lain mengusung semangat 'kumaha aing'. Keikutsertaan mereka dalam festival tersebut lebih mengarah kepada pembuktian eksistensi dan pernyataan sikap. Mereka mulai memproduksi lagu-lagu sendiri dengan mengangkat isu-isu sosial yang sedang populis pada saat itu.

Dengan kritis mereka mereka menyikapi kultur festival musik sebagai bentuk dari pemasungan kreativitas. Parameter penilaian yang justru pada akhirnya malah mengkerdilkan makna kejujuran dalam berekspresi. Semangat menurut pasar hanya menciptakan bentuk keseragaman dalam karya dan pada akhirnya melahirkan kebosanan. Media-media mainstream pada saat itu hanya menampilkan informasi musik yang itu-itu saja. Pada tahun 1993 mulailah terbentuk beberapa komunitas musik ekstrim di Bandung. Mereka rajin membuka ruang-ruang diskusi menyikapi realitas yang sedang terjadi terutama di tingkat lokal. Mengorganisir diri ke dalam bentuk komunitas yang mempunyai kecintaan dan minat yang sama. Saling bertukar informasi dan membuat workshop media dan eksplorasi teknologi alat musik. Penyikapan konkret mereka buktikan dengan cara membuat media-media informasi tandingan yang isinya lebih kepada pengenalan kultur ini kepada khalayak. Dari situlah maka mereka mulai merambah acara-acara festival musik di kota Bandung. Dari mulai event 'agustusan' hingga pensi-pensi SMA. Pada masa itu sikap diskriminatif terhadap band 'underground' kerap terjadi. Dari mulai aksi teror secara verbal hingga yang sifatnya fisik. Tidak jarang mereka harus menerima hinaan ataupun cibiran dari beberapa orang yang tidak suka atau bahkan yang tidak mengerti sama sekali tentang aliran musik ekstrim. Band-band yang beraliran punk, hardcore, grindcore dan black metal kerap mendapatkan perlakukan diskriminatif dari pihak penyelenggara. Dari mulai jatah waktu tampil yang dikorupsi, perlakuan pihak sound system yang dengan sengaja mengacaukan setting sound, hingga terror fisik dari preman lokal yang merasa tersaingi.

Sikap tersebut terbentuk karena tatanan sosial pada saat itu pada umumnya masih dihinggapi perasaan xenophobia atau selalu merasa khawatir terhadap nilai dan tatanan baru yang muncul. Mereka selalu merasa bahwa hal baru sama dengan ancaman baru. Pada saat itu parameter berekspresi adalah sesuatu yang dapat menembus batasan yang sudah ditetapkan oleh pihak industri musik mainstream. Paradigma musik yang bagus adalah musik yang berorientasi pada kebutuhan pasar yang dapat masuk rating televisi dan menguasai jajaran top-ten radio. Belum terbentuk mental penerimaan yang baik terhadap hal baru yang dapat menambah khazanah keberagaman, utamanya di bidang musik.

Kondisi nyata seperti itulah yang menjadi latar belakang komunitas Ujungberung bercita-cita menggelar acara musik yang konsepnya menampilkan semua jenis musik underground dalam satu panggung. Terinspirasi oleh pagelaran Hullabaloo #1 pada tahun 1994 yang sukses digelar di Gor Saparua yang menampilkan musik underground dengan berbagai macam aliran. Dari mulai hip-hop, grindcore, pop, punk, hingga musik industrial. Komunitas Ujungberung mengadopsi konsep tersebut namun format musik yang disuguhkan lebih kepada sajian musik dengan distorsi tingkat tinggi. Lahirlah acara Bandung Berisik #1 pada tahun 1995 yang melahirkan acara-acara metal legendaris khas ala Ujungberung seperti Bandung Death Fest, Rebellion Fest, dan Rottrevore Death Fest yang rutin digelar secara berkala menampilkan band beraliran metal ekstrim.

Counter Culture

Era 1996 hingga 1997 komunitas musik 'underground' di Bandung mengalami masa perkembangan yang pesat. Konsep kolektivisme dan DIY mulai banyak direalisasikan dalam berbagai bentuk kegiatan kongkret. Dari mulai membuat perusahaan rekaman berbasiskan indie label lengkap dengan konsep distribusi dan promosinya, pembuatan merchandise band, pembuatan media informasi komunitas berupa fanzine fotokopian, hingga kepada penggarapan event yang mengandalkan semangat kolektivisme. Jenis karya musik yang dihasilkan makin beragam dan cenderung makin agresif. Lirik yang diproduksi mulai banyak menyentuh hal-hal yang sifatnya politis. Banyak lirik pada saat itu yang bercerita tentang nasib buruh, petani, dan kaum miskin kota. Dengan frontal mulai melakukan kritik-kritik terhadap pemerintah yang dinilai gagal mengatasi krisis. Industri musik mainstream pada saat itu sedang dilanda kejenuhan pasar. Paska booming Slank dan Iwan Fals pada saat itu tidak ada lagi fenomena musik yang luar biasa.

Media-media mainstream mulai kehabisan bahan berita hingga akhirnya komunitas 'underground' dengan segala bentuk dinamika pergerakannya menjadi bahan eksploitasi berita. Hampir semua media terutama media cetak mainstream yang ber-target marketing anak muda membahas fenomena pergerakan musik 'underground' terutama yang terjadi di kota Bandung. Hal tersebut jelas berdampak sangat besar pada perkembangan musik 'underground' pada saat itu yang seolah-olah di-setting menjadi trend musik masa kini. Melalui peran media mainstream pula hingga akhirnya booming musik 'underground' ini mewabah hampir di semua kota besar di Indonesia, utamanya di pulau Jawa.

Lahirlah beberapa komunitas musik 'underground' di kota Jakarta, Bali, Surabaya, Malang, Yogya dan Medan. Beberapa pagelaran bertema serupa ramai digelar di kota-kota tersebut dalam skala kecil. Di kota Bandung yang notabene adalah barometer musik 'underground' pada saat itu hampir setiap minggu Gor Saparua menjadi langganan acara-acara musik 'underground' yang diorganisir oleh beberapa komunitas di kota Bandung. Gor Saparua selalu dipenuhi oleh massa 'underground' yang rata-rata berusia belia dari berbagai kota di Indonesia. Ada yang dari Medan, Jakarta, Surabaya, Yogya, Malang dan kota-kota lainnya. Terjadilah transformasi informasi dan proses penyerapan kultur. Dari sinilah awal terbentuknya jaringan komunikasi lintas komunitas dalam rangka memperluas jaringan. Beberapa komunitas dari luar kota Bandung dijadikan basis distribusi bagi penyebaran produk dan informasi yang berkaitan dengan aktivitas sub kultur. Bahkan sekarang sudah terbentuk jaringan event yang diorganisir secara kolektif yang rutin menjalin kerjasama penyelenggaraan event 'underground'.

Pada masa itu lahirlah acara-acara musik seperti Bandung Underground yang di organisir oleh komunitas Muda-Mudi Margahayu, Gorong-Gorong Bandung diorganisir oleh komunitas punk P.I., Bandung Minoritas, Campur Aduk dan lain-lain. Namun pada masa itu pula situasi politik dan ekonomi Indonesia mengalami guncangan. Masa peralihan kekuasaan yang diwarnai kisruh pertarungan politik di tingkat elit kekuasaan berdampak besar pada perekonomian. Tragedi krisis moneter yang mengguncang hebat perlahan ikut membawa dampak pada perkembangan musik Underground, khususnya di kota Bandung. Demonstrasi besar-besaran kerap mewarnai jalanan kota Bandung. Daya beli masyarakat secara keseluruhan mulai menurun dikarenakan harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Hingga pola konsumsi masyarakat pada saat itu berubah dengan cara mengurangi hal-hal yang dirasa tidak terlalu penting. Acara yang biasanya ramai dipenuhi oleh penonton lambat laun mulai sepi pengunjung. Beberapa organiser yang berasal dari beberapa komunitas independen di Bandung mulai menarik diri untuk membuat event musik 'underground'. Di samping tidak mau mengalami kerugian secara finansial [walaupun pada saat itu dan sampai sekarang tidak pernah mencari keuntungan], juga disebabkan kendala perijinan yang semakin represif terhadap hal-hal yang sifatnya mengumpulkan massa dalam jumlah banyak. Beberapa yang memaksakan diri mengalami kerugian yang cukup besar dikarenakan sepi penonton atau dengan alasan meresahkan dan mengganggu ketertiban secara sepihak dibubarkan oleh aparat keamanan. Beberapa pelaku subkultur 'underground' pada masa itu ikut melebur bersama beberapa organ buruh dan mahasiswa aktif menggelar aksi-aksi demonstrasi menuntut perubahan di segala bidang.

Pada saat sulit tersebut justru komunitas Ujungberung banyak mengalami kemajuan yang signifikan. Banyak band-band baru terbentuk dengan semangat dan idealisme yang tinggi. Beberapa band seperti Jasad, Sacrilegious, Sonic Torment, Burgerkill dan Forgotten bahkan telah mampu memproduksi dan mendistribusikan album perdana mereka secara independen. Pada masa itu komunitas Ujungberung mulai membangun basis ekonomi komunitas sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi komunitas dengan cara membangun distro Rebellion yang khusus menjual produk-produk band Ujungberung dan komunitas musik lain di Bandung. Semua murni dilakukan atas dasar dorongan insting untuk bertahan hidup.

Ekonomi Kreatif

Dinamika pergerakan komunitas 'underground' sebagai bagian dari sebuah sub kultur di Bandung khususnya di Ujungberung ternyata membawa dampak pada sikap kemandirian ekonomi. Semangat kemandirian atau independensi yang mereka usung telah mampu menjadi trigger atau pemicu bagi eksplorasi kreativitas. Tidak hanya di sektor karya musik saja namun telah meluas pada sektor ekonomi. Spirit pemberontakan yang mereka usung telah mampu menyelesaikan beberapa persoalan sosial yang ada khususnya dalam hal penyediaan lapangan kerja. Di komunitas Ujungberung sendiri sejak tahun 2004 hingga sekarang telah terbangun beberapa unit bisnis yang berbasiskan komunitas. Dari mulai usaha sablon, distro, konveksi pakaian, studio rekaman, perusahaan rekaman indiependen, jasa distribusi, studio rekaman, usaha penerbitan, toko buku dan usaha warnet. Semuanya murni dikelola oleh para pelaku komunitas 'underground' Ujungberung dan melibatkan tenaga kerja dari lingkungan yang sama. Beberapa pelaku komunitas ini terlibat aktif sebagai kru band dan teknisi studio rekording di kota Bandung. Semuanya saling bersinergi dan menciptakan perbaikan ekonomi minimal bagi para individu dan internal komunitas.

Semua bentuk kreatifitas yang diusung oleh para pelaku industri kreatif dalam hal ini adalah pelaku sub kultur telah mampu memberikan 'wajah' pada kota Bandung. Beberapa gelaran event musik yang digelar di Bandung selalu dijadikan tolak ukur dan parameter perkembangan musik bagi kota lain. Bentuk dan perkembangan fesyen dikota Bandung selalu menjadi trendsetter bagi perkembangan industri fesyen di Indonesia.

Pada tahun 2008 hingga 2013, kota Bandung oleh British Council dijadikan proyek percontohan sebagai 'creative city' di kawasan asia pasifik. Sebuah kota yang memang secara budaya berhasil dibangun citranya oleh komunitas kreatif berbasiskan indiependen. Proses pencapaian tersebut dilakukan atas dasar insting untuk bertahan hidup dalam mensikapi situasi. Jiwa yang kritis dan semangat 'pemberontakan' memanfaatkan potensi yang seadanya namun didukung oleh semangat kolektivisme yang tinggi hingga berhasil mengatasi semua hambatan yang ada - meski tanpa daya dukung yang kuat dari pemerintah berupa kebijakan dan fasilitas yang layak untuk mengekspresikan energi kreatif mereka. Mau didukung atau tidak mereka tidak peduli, karena secara sistem mereka telah teruji kemandiriannya.

Tapi kata kunci dari segalanya adalah keteguhan prinsip. Panceg Dina Jalur, tidak gamang menghadapi perubahan. Membaca segala bentuk perubahan sebagai kulit saja bukan sebuah inti. Sehingga ketika harus menyesuaikan diri dengan perubahan tak lantas kehilangan diri tenggelam dalam euphoria di permukaan. Segala pencapaian itu juga harus dikelola dengan sinergi yang positif antara lahan-lahan garapan kreatifitas, sehingga akan terus berkembang dan pada gilirannya memberikan hal positif bagi masyarakat luas.

[Addy Gembel - http://www.addygembel.multiply.com/]


Artikel di atas merupakan bahan presentasi diskusi yang dikutip dari hasil riset penulis untuk penulisan buku sejarah komunitas "Ujungberung Rebels, Panceg Dina Jalur" dan sejarah "Bandung Underground". Riset dilakukan sejak November 2007 bersama Kimung dari Minor Books dan Common Room Network Foundation. Rencananya buku tersebut akan diterbitkan pada Januari 2009. Beberapa hasil riset ini pernah dipresentasikan di beberapa forum diskusi dan dimuat di beberapa media cetak, seperti Rolling Stone Indonesia, Pikiran Rakyat dan Ripple magazine

Senin, 18 Agustus 2008

CAVALERA CONSPIRACY: Reinkarnasi SEPULTURA Yang Lebih Kejam?


KALO kau pecinta SEPULTURA yang ngetop di era 90-an, mungkin bisa sedikit berpaling kepada band ini. Pasalnya semenjak Max Cavalera [vokal/gitar] dan Igor Cavalera [drum/perkusi] hengkang dari band asal Brazil itu, rasanya ada yang "kurang nendang" lagi ngedengernya.



Setelah "lelah" dengan band hiphop-thrash metalnya, Soulfly, Max dan Igor kemudian sepakat mengibarkan bendera baru yang diberi nama CAVALERA CONSPIRACY. Dari namanya saja kita langsung tahu, band yang "kejam" ini seperti band keluarga yang siap "meluluhlantakkan" ranah metal dunia. Tapi sedahsyat apa?

Oke, kita simak dulu line-upnya. Ada Max Cavalera [vokal/gitar], Iggor Cavalera [drum/perkusi], Marc Risso [gitar], Joe Duplanter [bass]. Meski ada beberapa nama lain yang tidak masuk klan Cavalera, tapi jangan berharap mereka punya andil besar di grup ini. Nyaris semuanya digarap, diaransemen dan diolah oleh Cavalera bersaudara. Ini adalah reunian Max dan Igor yang pertama di studio recording sejak album kolosal Sepultura, “Roots”, di tahun 1995. Di album band yang masih mengusung trash metal ini juga akan memuat sebuah track yang menampilkan kolaborasi Max dengan Joe dan Richie Cavalera (Incite), pada vocal. Belum lagi penampilan cameo dari bassist Pantera dan Down, Rex Brown di salah satu track-nya.

Kemudian single pengantar "minum racunnya" adalah "INFLIKTED" yang menderu dengan speed-gitar Marc Rizzo yang mengingatkan penulis pada Sepultura di awal karirnya. Marc tampaknya sengaja didapuk sebagai "penjaga" ritme supaya tidak lari banget ke arah Sepultura, tapi juga tidak "menceng' ke Soulfly. Lagu kenceng ini menjadi pengantar yang lumayan greget. Repotnya, track ini menjadi track paling "layak dengar" di album ini.

Oke, paling tidak ada beberapa track yang pantas disimak juga. Sebutlah 'Sanctuary' yang kejam menghujam dengan lirik kasarnya. Percayalah, track ini [dan album ini], bukan konsumsi remaja atau anak-anak tanggung.


Agak menurun temponya di track 'Terrorize' yang di koda diselipi permainan perkusi Igor Cavalera. Tapi jangan tanya tempo di awalnya, speed tanpa jeda.

Ada 11 lagu yang "merontokkan" kuping. Sebagai sebuah "klangenan" kepada Sepultura, CAVALERA CONSPIRACY memang memberikan sedikit jawaban. Tapi meski terasa sangat personal, album ini tetap tak bisa menjadi "lebih baik" dibanding Sepultura. Beberapa track malah cenderung seperti Soulfly dengan perkusi kental, seperti track 'Black Ark'.

Buat kamu yang berharap sound dan aransemen seperti Sepultura, mungkin sedikit kecewa. Tapi kalau berharap sedikit fresh dengan aransemen dan sound yang lebih segar, album bertitel 'INFLIKTED' ini cukup memberikan pemanasan. Nggak kalah garang kok..

Menurut Monte Conner, produser Roadrunner Record, label yang mewadahi Cavalera Conspiracy, “Magic between Max and Igor is still there. Saat dua bersaudara ini main musik bersama, rasanya seperti tujuh planet berada dalam satu garis.” Conner juga menambahkan permainan Igor masih selalu on fire, dan Max juga masih memiliki vocal yang khas dan paling powerful di scene metal.


Invasi Ozzy Ke Inggris Raya


Event musik besutan dedengkot metal Ozzy Ozbourne, Ozzfest, dikabarkan akan melebarkan sayapnya ke tanah Britania Raya. Event musik metal yang tiap tahunnya diadakan di wilayah Amerika ini direncanakan akan mengguncang London 02 arena pada bulan Juli mendatang.
Ozzy Osbourne sendiri telah memulai rangkaian turnya di Amerika Selatan pada akhir Maret 2008 bersama KoRn dan Black Label Society. Band-band yang juga hampir pasti ikut tampil dalam festival ini menurut Kerrang.com antara lain Killswitch Engage, Alice in Chains, Serj Tankian, Dimmu Borgir, dan Lacuna Coil.
Tahun ini, Ozzfest di wilayah AS akan berubah menjadi festival terpusat sepanjang 2 hari di Dallas. Namun itu baru rumor. Rumor itu muncul karena tahun ini akan bangkit sebuah festival metal “Rockstar Energy Mayhem Tour” yang akan digeber di 30 amphiteater di seantero Amerika Utara selama Juli dan Agustus. Persis seperti format awal Ozzfest.

Tahun lalu, Ozzfest memberlakukan tiket bebas biaya. Para penonton mendapatkan tiketnya melalui website sponsor. Band penampil pun tidak dibayar. Mungkin inilah yang menyebabkan line up jadi kurang memuaskan. Sementara itu, Mayhem tour telah dipatiskan menggaet beberapa “senjata andalan” Ozzfest yaitu Disturbed, Slipknot, Dragonforce, serta Mastodon.
Ozzy Osbourne akan tampil solo sebagai headline Ozzfest di AS karena rekan-rekan Black Sabbath sangat sibuk dengan proyek Heaven and Hell mereka.

Interview with Dony Iblis ( Funeral Inception )




Berikut ini adalah posting terbaru saya sebuah interview dari seorang teman lama yang juga teman satu visi,yaitu DONI IBLIS seorang vocalist band death metal asal jakarta FUNERAL INCEPTION yang dalam waktu tidak lama lagi mengeluarkan album baru nya bersama funeral inception yang mengadopsi sebuah nama dari salah satu lagu milik band death metal yang melegenda ya...Suffocation,band yang juga menjadi kan titik ideal mereka dalam bermain musik ini dia kutipan wawancaranya via yahoo messenger hehehhehehehe..



The Damage
: Hallo man,kumaha damang????
The Damage: Knapa ganti nama dari bloody gore ???

Doni Funeral: sae...baik aja man
Doni Funeral: karena BLOODY GORE kurang METAL hahahahahhaa

The Damage: seriuously answer???

Doni Funeral: yeah. Bloody Gore kurang metal. Karena kurang
Metal, harusnya jadi BLOODY GORE METAL. itu baru metal.
Hmmm, ada perubahan fundamental dalam berkarya.
Penulisan lagu, lirik, tema dan sebagainya, kita rombak dan
pengen sesuatu yang lebih nonjok dan teknikal. so, para
personil Bloody Gore yang tersisa, memantapkan diri untuk
mengganti nama menjadi FUNERAL INCEPTION, seiring dengan perubahan-perubahan itu.

The Damage: siapa personil orsinil yang masih menetap disana?
Doni Funeral: personil orisinil era Bloody Gore atau Funeral Inception 1st wave ?
Kalo era Bloody Gore, udah gak ada yang orisinil. Rio dan Mithos udah cabut.
Kalo Funeral Inception 1st wave, tinggal gw doang

The Damage: Setelah perubahan nama,image apa sih yang kalian jual di pasar bawah tanah?
Doni Funeral: setelah perubahan nama, image yang kita jual itu death metal ala US yang berkiblat ke Deeds of Flesh dan Suffocation, Monstrosity dan Malevolent Creation. Lirik harus tetap gelap, dan tidak berkutat di hal2 layaknya image band terdahulu, gore dan tetesan nanah dari titit.

The Damage: Melihat fenomena yang akhirnya menjadi sebuah polemik apa sih yang ada dalam pikiran anda sebagai penulis lirik,apakah hal itu merupakan sebuah pembodohan??

Doni Funeral: jelas. para pemuka agama kini sepertinya kaya anjing yang dilepas di lapangan setelah kurungan mereka dilepas. why is it ? sepertinya mereka lupa, bahwa toleransi beragama itu harusnya dijunjung tinggi. seperti kata junjungan kita semua, Lakum dinnukum waliyadin (mungkin penulisan gw salah ya, maaf). Jadi, kita semua bertanggung jawab atas apa yang kita anut. Bukan menjadi justifikasi untuk memberantas yang berbeda. Bukan justifikasi untuk melakukan kekerasan kepada yang lain. Apa tuhan pernah memberikan instruksi untuk memberantas yang tidak sejalan dengan kita ? Gini aja. Kalo emang bener tuhan egois seperti itu, kenapa masih ada banyak agama yang beredar ? simple as that. Kita yang akan bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan, anut.

The Damage:Surga di bawah telapak kaki anjing..? apa maksud dari lagu itu?

Doni Funeral: surga itu selalu menjadi patokan, acuan kemana kita akan melabuhkan jiwa raga kita. sementara itu, ada buanyak pembodohan oleh para pemimpin agama itu, yang seolah-olah malah lupa, bahwa tuhan itu bukan untuk diperbudak, surga itu bukan tujuan utama, melainkan bagaimana kita mendedikasikan hidup dan mati kita untuk kemajuan lingkungan, kemajuan bersama, kasih sayang yang sebenarnya memang harus disebar ke sesama, bukan kasih sayang yang harus dipilah pilih untuk kesiapa kita berikan. Jadi, Surga bagi mereka sudah berada di bawah telapak kaki anjing. Tidak ada apa-apanya. Surga buat Mereka, hanya ada di khayal. Sesungguhnya surga buat mereka adalah perwujudan dari tahta, harta dan kuasa.

The Damage: percaya surga itu ada?

Doni Funeral: Gak percaya. Surga gw ada di dunia. gw berlaku bener aja dah ibadah menurut pribadi gw. gimana caranya membuat surga gw ini indah, aman, tentram dan berguna buat orang lain. Daripada mikirin surga yang cuma di ceritain lewat kitab suci, diceramahin kala lo gak mau diceramahin, di iming-imingin surga kalo lo berbuat baik. Jadi lo berbuat baik karena iming2
surga, bukan karena keikhlasan menyebarkan kasih sayang buat sesama ? kalo bisa gw beli, SURGA mau gw buang kelaut. gw bakar. biar orang-orang gak pikirannya cuma ke surga. KONTOL !!!

The Damage: jadi menurut anda surga adalah sebuah manifesto???

Doni Funeral: sepertinya. Surga cuma khayal ajalah. gw respect sama semua orang yang punya pandangan berbeda tentang agama dan surganya masing-masing, selama mereka tidak
menggangu dan memaksakan kepercayaan dan kehendak mereka ke orang lain, tidak pernah menjadi masalah. Surga = lelucon

The Damage: hahahhaha,skrg kita ganti topik man,siapa penulis lirik yang menurut anda menjadi seorang inspirator ??

Doni Funeral: okay. penulis lirik inspirator gw : Glen Benton, Frank Mullen, Dave Mustaine, James Hetfield. mereka punya sould ketika menuliskan sesuatu. yang selalu sampai melalui lagu. Kena banget.

The Damage: kalo penulis lokal?

Doni Funeral: adi gembel, yeyen sadie. lainnya di luar musik, yang bisa bikin gw terpecut. seperti Pramoedya, Manunggal K.W, dsb. Pencerahan kadang tidak datang melalui lirik yang bisa membuat inspirasi, kadang dari pertukaran pikiran dengan orang-orang yang egaliter.

The Damage: jadi sejauh ini anda banyak mengangkat dogma2 agama??

Doni Funeral: fuck yeah. Agama itu penyebab kekacauan di dunia. perang, siapa yang jadi penyebabnya ? Keserakahan, Kebencian, bisa diberantas dengan Agama ?

The Damage: band yang menjadi pengaruh buat anda?

Doni Funeral: SUFFOCATION - the living legend.

The Damage: yang lain living home ya?

Doni Funeral: yang lainnnya the dead legend.... hahaha

The Damage: cerita tentang album,sejauh ini Funeral Inception punya berapa album??
The Damage: dirilis di bawah bendera apa?

Doni Funeral: 1 debut tahun 2002 - Warpath Records, France. 2nd full length ini akan rilis di Juli 2008 Oleh rottrevore records.

The Damage: menurut anda,lokal band yang bisa menjadi ancaman serius??

Doni Funeral: band-band berikut ini bukan ancaman. tapi pelajaran, bagaimana mencapai titik ideal sebuah band : DEATHVOMIT - FORGOTTEN - SIKSA KUBUR - JASAD.yang menjadi ancaman ? tidak ada, selain kelompok2 ekstrem kanan bodoh itu....hahahahahha

The Damage: Maksudnya? Orang2 dibalik arogansi kekerasan atas nama agama??

Doni Funeral: fuck yeah.

Doni Funeral: mereka jelas menjadi ancaman bagi semua orang yang menjunjung tinggi keragaman dan menghormati perbedaan.

The Damage: melihat perkembangan musik death metal yang jadi begitu melebar dari akarnya,menurut anda band apa sih yang bagus untuk menjadi reverensi?

Doni Funeral: Behemoth adalah contoh yang sangat baik kalo mau diliat perkembangan musikal mereka. vital remains pun juga. Deicide, yang semakin mateng musik mereka. di sisi oldschool deathmetal mutherfucker, ada Malevolent Creation dengan doomsday X mereka yang dahsyat. Ada Vader dengan XXV mereka.

The Damage: kalo band lokal pendatang baru??

Doni Funeral: dead vertical - morbid dust berbahaya !

The Damage: opini anda tentang kasus launching nya beside yang makan korban?
The Damage: trs album band lokal terbaik??

Doni Funeral: kesalahan bersama yang wajib menjadi titik introspeksi. Kita semua harus memperhatikan tingkat keselamatan dengan lebih seksama. Semua elemen di metalscene, harus menjaga standar layaknya sebuah event.penonton, EO, band pengisi acara, bantuan keamanan, dan lain-lain, harus lebih mengerti mana yang kewajiban dan mana yang harus didahulukan dalam skala prioritas lancarnya sebuah event. Album lokal terbaik : PROPHECY-DEATHVOMIT

The Damage:
ADA GAK’ TARGET PENJUALAN ALBUM KALIAN?

Doni Funeral: Dr band, kita ga target. Bodo amat laku ga laku. Gw dah siap materi album ke 3. Tp klo dr sisi label, psti ada target. N gw ga taw. Lo blh tanya yg brkompeten aj. Rio.

The Damage:
ADA RENCANA TOUR MANGGUNG UNTUK PROMO ALBUM SAMPAI KELUAR KOTA GAK? KAPAN?

Doni Funeral: Ada. Tadinya kita mau gelar di juni. Tp trnyata mentok di perijinan, krn ada pilkada. Mdh2an bs digelar nanti agustus. Jawa bali. Brg sm bbrp band lain.

The Damage:
LAGU-LAGU DI ALBUM KALIAN ADA GAK INFLUENCE BAND LAIN? TOLONG SEBUTKAN KALO ADA…DAN KENAPA BISA TERINSPIRASI?

Doni Funeral: Lagu2 kita, klo lo smua dgr, sekilas aj, psti dah bs nebak, bhw ada darah kentalnya SUFFOCATION disitu mengalir deras. Kita smua di FI itu die hard fans dr suffo. N maw buat musik yg slh 1 influence terberatnya, that mighty godfather of NYDM.



The Damage: Knapa ganti logo? menurut lu blog gue gimana hahahaha??

Doni Funeral: Gw mau logo yg lbh representatif.Yg gambarin apa yg jd tema gw. Dan artis yg ngrjain ini, rada gokil! Keren abis krjana. Blog lo ky tai. Bau. N baunya bau metal abis. Keren dah!

The Damage: knapa anda mengidolakan gusdur???pendapat anda ttg gusdur??

Doni Funeral: Gusdur tuh bpk bngsa. Dimasa kekuasaan dia, dia yg bs mulangin TNI ke baraknya. Tanpa ada pertumpahan darah. Tanpa ada konflik. Dia tau hakikat menghargai kebebasan bragama, keberagaman, toleransi antar umat, dan cerdas. Walau kdg sk asal jeplak.

The Damage: SAPA TUHAN KAMU??

Doni Funeral: Tuhan gw ada. Tp ga sama ma tuhan org2 lain. Perspektif gw ttg agama, tuhan, dan theologi berbeda dgn org lain, yg bentuk formal.

The Damage: apakah jawaban itu cukup menegaskan bahwa anda berketuhanan dan berkeyakinan?

Doni Funeral: And I LOVE HIM SO GODDAMN MUCH, as much as I LOVE SATAN...
Doni Funeral: Jelas. Gw bertuhan. Gw pnya keyakinan. Tp esensi theologi gw beda bgt. Gw punya respect buat mrka yg pnya pandangan beda. Yg bs menghargai keberagaman.

The Damage: Ok man Thanx Alot

Doni Funeral: Ok sama-sama see ya......

Rotten Corpse 1st blood & Curse


Sebuah artikel yang tidak sengaja saya baca dari apokalip.com membuat saya menjadi membuka kembali ingatan akan kejayaan band ini.. yeah adith,gobel,anton dan didik adalah beberapa sosok monster penebar ancaman dari kota malang. Trus kenapa saya mengadopsi tulisan ini dari website?? karena saya menilai ini adalah bagian dari sejarah perjalanan death metal indonesia yang layak untuk diketahui oleh banyak metalhead yang sekarang terkena virus deathcore,yang merupakan sebuah gebrakan tak diduga sama sekali. berikut adalah hasil rekonstruksi samack salah seorang teman lama yang dengan setia terus berjuang untuk kemajuan scene underground malang ! samack adalah mantan roadies rotten corpse dan penulis mindblast sebuah literasi zine malang check this out..

Ini epos tentang Rotten Corpse, sebuah legenda brutal death asal Malang yang pertama kali mempresentasikan nada-nada ekstrim kepada khalayak metal Indonesia. Kisah nyata band lokal yang membuka jalan penuh cadas dan melesat tinggi dalam waktu singkat. Namun juga penuh duri tajam serta konflik berkepanjangan. Ngotot bertahan tapi akhirnya seperti diselimuti kutukan. Jika itu sebuah kenangan dan seribu pelajaran, maka simak sedikit catatan kisah mereka. A legendary maggots. This is the ultimated classic!...

Awalnya pada tahun 1994 cikal bakal Rotten Corpse adalah sekedar band session aja. Waktu itu saya udah malang-melintang bikin band ini-itu, dengan genre yang ini-itu juga. Sementara saya nge-fans banget sama band-nya Adyth, Orchestration Foolish. Band temen deket yang saya anggap paling oke, paling rapi di antara semuanya," jelas Aryev Gobel ketika mengingat kembali dari mana kisah epik metal ini harus dimulai.

Dia lalu melanjutkan ceritanya, "Si Adyth lah yang pertama kali nawarin bikin band session itu. Kita pengen coba main di genre metal yang lebih berat dan berisik. Setelah melalui tahap adaptasi personel, kita sepakat untuk serius dan band session ini dinamai Disgorged dengan formasi awal ; saya di vokal, Adyth dan Wawan di gitar, Upik di bass, dan Anton di drum."


Ini dia Begundal bersuara parau itu GOBEL

Berbagai proses dilalui, hingga akhirnya pada pertengahan Juni 1995 mereka dengan mantap mengubah nama band itu menjadi Rotten Corpse. Gitaris Adyth [eks Orchestration Foolish], vokalis Aryev Gobel [eks Abstain], gitaris Wawan [eks Lunatic Asylum], bassis Upick [eks Orchestration Foolish], dan drummer Anton [eks Lunatic Asylum] tampak cukup antusias untuk mengibarkan bendera brutal death metal di tanah Malang.

Sejarah mencatat, Orchestration Foolish dan Abstain merupakan dua band metal yang sering tampil dalam berbagai event festival musik garapan Gemma [Generasi Musisi Muda Malang] di rentang tahun 1992 - 1995. Sedangkan Lunatic Asylum adalah proyek band death metal bentukan trio Adyth, Wawan dan Anton - yang seingat penulis hanya sempat manggung satu kali di kampus Unibraw dengan mengusung lagu-lagu kover milik band metal Austria, Disastrous Murmur.

Begitu resmi terbentuk, Rotten Corpse langsung tancap gas berlatih di studio dan berawal dari mengkover lagu-lagu milik Cannibal Corpse, Suffocation, hingga Broken Hope. Tidak lama, Adyth dkk mulai berani tampil di sejumlah gigs, parade band dan berbagai event musik kampus yang ada di Malang.

Sebagai band baru, pada masa itu mereka musti rela membayar biaya pendaftaran untuk manggung. Di setiap pentas, Adyth dkk juga kerap membawa suporter setia - yang notabene adalah temen-temen dekat mereka sendiri. Rotten Corpse sempat menggemparkan event Singosari Open Air, di mana Anton berhasil menyabet gelar 'Drummer Terbaik' dan dapat trophy sebagai kenang-kenangan. Weird?!...

Pada akhir tahun 1995, Upick terpaksa cabut karena pekerjaan dan posisinya digantikan oleh Didik, pemuda pendiam asal Nganjuk hasil rekomendasi dari Afril [Extreme Decay]. Menyusul tak lama kemudian Wawan juga keluar dari Rotten Corpse, dan membentuk grup band Adzab yang beraliran black metal. Mulai saat itulah formasi Rotten Corpse menjadi empat orang dengan menyisakan Adyth yang sendirian di sektor gitar, sekaligus sebagai mastermind yang mengelola materi musik dan karir band

Di awal tahun berikutnya, Rotten Corpse coba merilis demo pertama yang mereka beri titel Maggot Sickness. Demo yang direkam selama dua jam secara live-track di studio Oase itu justru jadi momentum penting bagi langkah karir Rotten Corpse selanjutnya. Rekaman demo itulah yang memancing banyak reaksi kekaguman serta efek positif dari berbagai scene musik cadas di Indonesia. Dan nama Rotten Corpse makin sering disebut serta mulai hangat dibicarakan...

"Itulah kuncinya," cetus Aryev Gobel. "Demo rekaman yang berkualitas minim banget itu sempat dibawa ke Bandung yang kala itu merupakan kota sejuta harapan bagi semua band underground. Demo itu diperkenalkan pada komunitas di sana dan bisa menunjukkan bahwa Malang, kota kecil yang tidak begitu mencolok mempunyai satu monster yang sanggup memporak-porandakan pasar underground. Dan itu memang terjadi!..."

Akibat demo sederhana itu Rotten Corpse akhirnya diundang ke Bandung untuk tampil di salah satu konser cadas yang sangat monumental, Bandung Underground #2 di gedung Saparua, 21 Juli 1996. Dengan bersemangat sang vokalis kembali berujar, "Show pertama kita di Bandung itu memang luar biasa. Kita sanggup membuat mereka tercengang. Kita sanggup memposisikan Rotten Corpse menjadi monster yang sangat mengerikan di kalangan underground Indonesia!"

Tak ayal, nama Rotten Corpse langsung melesat dan mulai menjadi 'national-highlight' bagi pencinta musik ekstrim di negeri ini. Sepekan kemudian, tepatnya tanggal 28 Juli 1996, Adyth dkk menjadi headliner pada ajang Parade Musik Underground di gedung YPAC, Malang. Di sini Rotten Corpse kembali menjadi bintang dengan performanya yang nyaris sempurna.

Puncaknya mulai terjadi pembicaraan antara Rotten Corpse dengan Hariyanto a.k.a Mas Harry dari HR Production [produsen kaos yang berdomisili di Surabaya] yang ingin memproduksi debut album Adyth dkk. Mas Harry sepakat bikin label metal independen dengan nama Graveyard Production, dan mengontrak Rotten Corpse sebagai artis band pertamanya. Dia juga yang bertindak sebagai manajer band kebanggaan arek Malang tersebut.

Akhirnya pada bulan November 1996 Rotten Corpse menjalani proses rekaman selama lima hari penuh di studio Natural [Surabaya] dengan produser Mas Harry dan dibantu Irwan sebagai sound engineer. Proses rekaman mereka saat itu terbilang cukup mewah dan fenomenal bagi kalangan komunitas metal. Sebab Adyth dkk mulai meninggalkan gaya live-recording dan berani menggunakan sistem track-recording untuk mendapatkan hasil rekaman yang maksimal. Metode rekaman seperti itu masih jarang digunakan oleh kebanyakan band underground pada jaman itu karena keterbatasan sarana dan equipment standard, serta memerlukan waktu dan biaya yang lumayan besar.

Sementara proses mixing materi rekaman Rotten Corpse masih digarap, Adyth dkk kembali menghajar beberapa event metal raksasa, seperti misalnya Underground Siang Bolong [Surabaya], Total Noise [Jakarta], dan PMU #2 [Malang]. Alhasil nama Rotten Corpse semakin mengkilap saja di blantika musik cadas tanah air.

Tepat di akhir tahun 1996, Graveyard Production resmi merilis album Rotten Corpse yang bertitel Maggot Sickness. Di dalamnya berisi delapan lagu yang digarap cukup maksimal, dan sukses menggelontorkan sejumlah singel keren seperti Rotten Solid Brain, Broken Hope, atau Mindless Tentacles. Yah, sebuah masterpiece!...

Respon publik dan pasar metal Indonesia tentunya sangat menggembirakan. Maggot Sickness menjadi album metal yang cukup bersinar di jamannya, dan sempat diklaim oleh seorang jurnalis musik sebagai salah satu dari 20 album rock-lokal yang revolusioner [majalah MTV Trax2, Juli 2004]. Dalam artikel itu juga tertulis, "Album debut mereka yang bertitel 'Maggot Sickness' saat itu menggemparkan scene metal di Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Bali karena komposisinya yang solid dan kualitas rekamannya yang top notch."



Berbagai media metal-underground juga memberi komentar dan review yang positif. Sebuah fanzine lokal bernama Loudly Press menaruh Maggot Sickness di list pertama dalam rubrik Five Malang Essential Records - dengan kutipan singkat, "...sebuah perjuangan yang sangat tidak pantas untuk dilupakan. Sebuah album untuk semua diehard metalheads!"

Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, Aryev Gobel ikut buka mulut lebar-lebar soal rilisan itu, "Maggot Sickness adalah album masterpiece yang pernah dilahirkan oleh praktisi band underground dalam kualitas recording, materi musik, dan artwork. Perpaduan teknik analog dan manual artwork yang orisinal
Perlu diketahui bahwa sampul depan Maggot Sickness itu benar-benar 'asli dan nyata'. Ceritanya dalam sesi foto kover itu kaki Aryev Gobel rela dilumuri cat merah dan saus kental serta diguyur sekantong belatung hidup yang biasa di pakai sebagai pakan burung peliharaan. Hasil fotonya lalu diolah sedikit di komputer dan jadilah salah satu karya sampul album yang paling 'orisinil' di scene metal Indonesia.



Kedahsyatan Maggot Sickness menyeberang hingga ke negara tetangga. Di awal tahun 1997, album itu dirilis kembali oleh Ultra Hingax Prod dan VSP dengan titel Rotten Corpse [self-titled] untuk pasar distribusi Malaysia dan Singapore. Bahkan tiga lagu mereka - Rotten Solid Brain, Sound Bitter, Mindless Tentacles - masih sempat masuk dalam proyek kompilasi Ultra Violence yang diterbitkan oleh Ultra Hingax Prod [2000] di wilayah negeri jiran.

Sayangnya kesuksesan Rotten Corpse tidak lalu dibarengi dengan solidnya hubungan internal di tubuh band. Perlahan muncul keretakan antar personil akibat ego yang berlebih atau benturan kepentingan. Bahkan sejak itu mulai muncul isu-isu tak sedap yang justru datang dari seputar scene mereka sendiri. Agaknya Rotten Corpse sempat kaget dengan popularitas mendadak yang mereka terima. Scene lokal juga tampak belum siap menerima perubahan yang terjadi pada band yang sempat mereka bangga-banggakan itu. Yang muncul kemudian adalah bibit prasangka, iri, curiga, opini negatif, serta vonis yang berlebihan."Saya pribadi memang shock berat dengan begitu cepat populernya band ini. Saya jadi dikenal, banyak banget yang berinteraksi baik secara poistif maupun negatif. Tekanan-tekanan menjadi 'artis' pun nyata saya rasakan, baik secara psikologis maupun fisik!" ungkap Aryev Gobel jujur.

Dalam kasus ini, mitos bahwa konflik internal hampir selalu menyertai band yang terlalu cepat sukses mungkin benar adanya. Puncaknya pada pertengahan tahun 1997, Aryev Gobel keluar dari Rotten Corpse. "Kegilaan saya terhadap narkoba tidak dibarengi dengan pemikiran personel lain yang penuh pengertian. Cukup satu vonis, saya adalah pengganggu dan harus keluar dari Rotten Corpse!" aku Aryev Gobel yang lalu memilih bergabung di grupband Santhet sebagai drummer.

Sepeninggal Aryev Gobel, Rotten Corpse terus bertahan. Apalagi tawaran manggung masih datang dari berbagai pentas. Akhirnya posisi vokal diisi oleh Ferry Rinaldi [eks Brain Maggots]. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Wawan dpanggil kembali untuk mengisi ruang gitar yang pernah ia tinggalkan. Rotten Corpse kembali dalam formasi berlima dengan duo gitaris yang gahar.

Pada bulan Juli 1997, Rotten Corpse kembali diundang manggung di kota kembang dalam acara Bandung Berisik #2. Saat itu mereka berangkat tanpa Anton dan Didik yang sedang ujian di kampusnya. Terpaksa dalam konser itu Adyth, Ferry dan Wawan meminta bantuan sahabat mereka yaitu Hendra [drum] dan Ratno [bass] dari grupband Motordeath sebagai additional musicians. Uniknya, tepat seminggu kemudian giliran Adyth yang diajak manggung membantu Motordeath ketika band Bandung itu show di event Hullabaloo #3? .

Sepulang dari Bandung itu sebenarnya sudah tampak sekali kalau pondasi Rotten Corpse mulai retak. Kejenuhan memuncak, konflik internal semakin tajam, dan perang kepentingan terjadi satu sama lain. Adyth selaku mastermind kelompok ini tampak mulai kehilangan akal dalam menyatukan visi bermusik personil lainnya. Bisakah nasib mereka diselamatkan?!...

Hingga pada suatu sore di bulan Agustus 1997, Adyth tiba-tiba mengontak salah seorang editor Mindblast fanzine dengan maksud ingin menyampaikan satu informasi penting. Pertemuan mendadak dilakukan di sebuah warung kopi sederhana dekat markas redaksi Mindblast. Sore itu dia mengaku baru saja melakukan pertemuan internal dengan semua personil band dan mendapatkan satu keputusan penting tentang karir musik mereka.

"Ini berita resmi dari Rotten Corpse, dan kamu orang pertama yang aku kasih tahu ya," kata Adyth dengan mimik wajah serius. "Gini, aku akan balik ke Bandung dalam waktu dekat ini. Mau nerusin studi di sana. Trus soal Rotten Corpse, kita tadi udah sepakat kalo nama Rotten Corpse akan aku bawa serta ke Bandung."

Bagaikan geledek di siang bolong. Berita ini sungguh mengagetkan. Meski sebenarnya sudah lama tercium indikasi ke arah perpecahan Rotten Corpse. Namun tidak ada yang menyangka kalau ternyata skenarionya seperti ini. Adyth mengusung nama Rotten Corpse di Bandung? Sama siapa? Terus bagaimana nasib empat personil lainnya di Malang? Apakah ini bahasa lain dari Rotten Corpse yang memutuskan bubar total?...

"Tenang aja. Rotten Corpse bakal terus eksis kok. Hanya pindah home base aja ke Bandung!" kata Adyth hati-hati seperti tidak ingin menyinggung perasaaan siapapun. Dia bukannya memecat ke-empat personil yang lain. Dalam bahasa yang dia pakai adalah 'meminta Anton dkk untuk mengundurkan diri dari band'. Sebab selaku personil yang menulis hampir semua materi lagu serta mengelola semua urusan karir band, dia merasa yang paling berhak menggunakan nama Rotten Corpse.

"Yah kita liat saja gimana entar jadinya. Sampai di Bandung nanti aku akan langsung cari orang-orang yang mau bantu membentuk Rotten Corpse yang lebih matang dan serius. Lagipula di sana kayaknya lebih menjanjikan untuk maen musik," jelasnya kemudian.

Tidak lama setelah 'konferensi pers' eksklusif tersebut, tepatnya di bulan September 1997, Adyth benar-benar pulang kampung ke Bandung. Di sana ia dibantu oleh para personil Motordeath untuk membangun dinasti Rotten Corpse yang baru. Setelah berlatih singkat di studio, mereka langsung diundang tampil dalam sebuah konser musik cadas di Denpasar, Bali.

Sementara itu di waktu yang bersamaan, sisa personil yang tertinggal di Malang ternyata masih menyatakan diri eksis dan berhak menyandang nama Rotten Corpse. Ferry, Didik, Wawan, dan Anton tetap coba bertahan dalam manajemen Graveyard Production. Mereka juga mulai kembali ke studio dan sempat beberapa kali mengisi gigs lokal yang ada.

Munculnya dua kubu yang berlabelkan Rotten Corpse itu cukup membingungkan masyarakat metal. Pro-kontra mulai merebak luas. Kedua kubu tetap saling klaim dan merasa paling berhak. Panitia acara musik pun bingung musti mengontak Rotten Corpse yang mana?! Saking bingungnya, Mindblast sendiri bahkan memuat artikel berjudul Rotten Corpse satu halaman penuh yang hanya berisi tanda tanya besar [?] tanpa tulisan apapun di edisi ketiganya. Berbagai 'upaya damai' tidak mampu meredakan sengketa dan konflik di antara mereka sendiri.

Namun semua itu berjalan tidak terlalu lama. Adyth tampaknya kesulitan berjuang sendirian dengan brand lawas Rotten Corpse di Bandung. Sementara Anton dkk di Malang seperti kehilangan nahkoda serta agak kewalahan mengelola karir band tanpa sentuhan Adyth. Dan perlahan kedua kubu Rotten Corpse itu tidak pernah ada kabarnya lagi. Selesai sampai di sinikah sejarah Rotten Corpse?! Mmhh, belum tentu...

Di awal tahun 1998 tersiar kabar bahwa Adyth membentuk grupband deathmetal anyar yaitu Disinfected. Kelompok itu diperkuat juga oleh nama-nama paten dari scene metal Ujungberung Bandung, seperti Amenk [eks Embalmed] dan Andris [Burgerkill]. Tidak lama mereka langsung merilis debut album yang bertitel Melted rilisan Extreme Souls Production. Menurut sebagian kawan, album yang mendapatkan respon hangat dari fans metal itu punya nuansa musik khas Rotten Corpse. Sungguh masuk akal, sebab hampir semua materi dasar lagunya memang ditulis oleh Adyth. Bisa dibayangkan kalau Melted adalah 'album kedua dari Rotten Corpse'?!...

Setelah merilis rekaman, nama Disinfected melesat di scene metal Indonesia. Berbagai panggung musik mulai dijajal. Bahkan mereka sempat diundang tampil di kota Malang dalam event bertajuk Malang Metal Fest. Adyth sendiri tampak enjoy bermusik di Disinfected dan mulai melupakan ambisinya mengusung nama Rotten Corpse yang sepertinya sarat 'kutukan'.

Tetapi nama Rotten Corpse sendiri ibarat 'pesugihan' yang selalu dicari sekaligus 'kutukan' yang terus menghantui. Buktinya pada akhir tahun 1998, Aryev Gobel bangkit dan membentuk kembali Rotten Corpse bersama gitaris Mentho [Keramat], bassist Yongki [Suffer In Crease], dan drummer Eko [Keramat]. Setelah ending yang tidak 'happy' di masa sebelumnya, sekuel kedua dari Rotten Corpse tampaknya dimulai dari sini...

Mereka langsung aktif berlatih di studio legendaris Centra, sambil sesekali manggung di sejumlah gigs lokal dan memproduksi beberapa merchandise. Akhirnya Rotten Corpse formasi baru pimpinan Aryev Gobel itu berhasil membuat satu karya nyata. Mereka sempat merilis sebuah singel yang berjudul Awakening untuk salah satu seri kompilasi cadas Brutally Sickness rilisan Extreme Souls Production.

Setelah tampil membuka show Edane di Malang dan mengisi sejumlah gigs lokal dalam rentang tahun 1999-2000, Rotten Corpse sempat dikabarkan akan merilis full-album melalui label Rottrevore records. Namun berita itu tidak pernah menjadi kenyataan. Begitu juga Rotten Corpse seperti berada di persimpangan antara 'ada dan tiada'. Sialan, rupanya 'kutukan' itu masih berlanjut...

"Dengan berat hati, ibarat putus pacaran, saya terpaksa tidak tahu menahu soal band ini. Saya tidak tahu kenapa, Rotten Corpse seperti mengantuk, pengen tidur terus. Sementara konflik-konflik internal pun tidak kunjung berhenti dan akhirnya mematikan band besar ini," tutur Aryev Gobel yang sekarang menjabat vokalis Keramat dan bekerja sebagai desainer grafis di sebuah pabrik rokok di Malang.

Seingat penulis, sejak tahun 2001 nama Rotten Corpse sudah tidak disebut-sebut lagi. Rotten Corpse is dead?! Well, seperti biasa, tidak pernah sekali pun ada pernyataan resmi mengenai keputusan bubarnya Rotten Corpse dari pihak-pihak terkait. Selalu saja misterius. Orang-orangnya masih ada di sekitar, tetapi nama Rotten Corpse perlahan lenyap begitu saja. Sebagian orang yang percaya kutukan berpendapat bahwa mungkin sebaiknya Rotten Corpse tidak usah ada lagi dan biarkan jadi sejarah...

And where is everybody now?!... Adyth saat ini sudah berkeluarga dan bekerja sebagai desainer grafis di Jakarta. Anton masih bekerja di Malang dan jadi drummer di Silence Is Broken - setelah sempat memperkuat banyak band lokal ; Disintegrate, System Error, sampai Davyjones. Wawan yang pernah main gitar di Adzab, Disaffection dan Antipathy sempat hijrah ke Ukraina bareng pacar bulenya. Didik kabarnya bikin band metal di Nganjuk. Upick sudah berkeluarga dan bekerja di Pandaan. Ferry Rinaldi sudah menikah dan menetap di Pandaan. Yongki berhenti bermusik dan tinggal di Malang. Aryev Gobel, Mentho dan Eko masih main musik bersama di Keramat. Mas Harry tetap di Surabaya, menekuni bisnis sablon dan jadi kolektor metal. They're all kvlt!...

Meski hanya eksis dalam waktu singkat dan dilanda berbagai konflik, setidaknya Rotten Corpse pernah menggoreskan tinta emas dalam sejarah musik metal di Malang, bahkan di Indonesia. Sampai-sampai muncul mitos bahwa hingga hari ini belum ada band metal Malang yang pernah mencapai level seperti Rotten Corpse - yang punya karya musik berkualitas, direspon secara masif, dan sangat menginspirasi banyak orang.

Sampai detik ini, satu-satunya album Maggot Sickness tetap menjadi klasik dan masih diburu dengan harga lumayan tinggi. Beberapa band lokal tercatat masih mengkover lagu-lagunya. Fans dari dalam dan luar negeri masih terus menanyakan stok rekamannya. Album bajakannya bahkan ludes diserbu pembeli. Begitu juga dengan merchandise-nya di pasaran gelap. Organiser show Kolektif Radiasi masih bercita-cita untuk membawa line-up klasik Rotten Corpse ke dalam sebuah konser reuni. Atau memang sudah sepantasnya band ini mendapatkan sebuah tribut khusus...

Penulis yakin mereka yang pernah bersama dan mengalami sejarah dengan band ini akan terus mengenang kejayaan yang singkat itu. Sejarah yang diukir Rotten Corpse akan selalu terasa emosional. Dari sisi yang baik maupun yang buruk. Seperti diungkapkan Aryev Gobel yang sampai rela merajah logo band Rotten Corpse di kulit tubuhnya, "Saya pribadi merasa bangga pernah punya band sedahsyat ini. Sampai mati band ini akan tetap di dada!..."

Sejarah Death Metal



Secara musikal, death metal adalah aliran paling fleksibel di antara genre metal lainnya. Ia tidak hanya memiliki kadar brutalitas berlebih, namun juga absah dengan sifat-sifat teknikal, melodikal, dan kerumitan tertentu. Hal-hal kecil boleh masuk dan tetap menjadi death metal. Genre metal lainnya tidak bisa seperti itu. Death metal bisa diibaratkan seperti air. Bagi kalangan luar mungkin kelihatannya biasa namun death metal mempunyai sifat-sifat yang tidak dimiliki substansi lain. Pernahkah anda menjumpai sebuah band progressive metal yang vokalnya growling terus-menerus? Pernahkan anda menyaksikan sebuah band power metal dengan brutalitas tingkat ekstrim dalam musiknya? Tidak. Saya kira tidak.

Karakteristik Death Metal

Sebelum saya masuk ke inti bahasan, saya ingin mengenalkan anda sedikit mengenai genre ini. Secara sederhana, death metal adalah perpaduan antara suara growling yang dalam, gitar yang disetel rendah serta penuh distorsi, bass yang berat, serta drum yang intense dan menderu. Lirik lagu adalah penarik perhatian utama departemen kreatif. Temanya bisa beragam, dari darah dan gore, setan, hingga horor dan filsafat. Struktur musiknya juga variatif, mulai yang simpel dan brutal, hingga yang intense dan teknikal. Growl vokal berbeda-beda, antara lain growl tinggi dan parau, serta growl rendah nan garang. Saking kayanya, orang bisa bilang bahwa death metal itu sekaya kerajaan binatang!

Sejarah Death Metal

Sekarang kita beranjak ke sejarah death metal. Genre ini sendiri memiliki latar belakang yang luas dan warna-warni. Agak sukar bagi saya untuk menjelaskan semua sisi genre hebat ini dalam satu hari. Karena itu di sini saya akan berusaha menunjukkan hal-hal utama saja, dan peristiwa-peristiwa penting yang mewakili inovasi ke depan, dan topik-topik semacam ini. Sekarang silakan anda duduk dengan nyaman karena saya akan segera membawa anda ke suatu perjalanan menyelami death metal.

Death Metal Gelombang Pertama (1983 - 1990)

Death metal dapat dirunut akarnya ke masa keemasan heavy metal di tahun 1980-an. Dari pengaruh hebat yang dibawa band-band thrash metal seperti Slayer dan Kreator, death metal mulai tumbuh semenjak sebagian kecil orang yang tersebar di Amerika mencomot sound thrash metal yang cepat dan agresif milik Slayer dan Kreator lalu menambahkannya dengan ramuan brutal berkadar ekstra. Tidak diketahui dengan pasti band mana yang menjadi penemu pertama death metal namun penelitian telah membawa kita kepada tiga nama kunci ; Death dari Florida (Death aslinya bernama Mantas ketika pertama kali dibentuk), Possessed yang lahir di California, dan Master yang berbasis di Illinois; ketiga band ini sama-sama terbentuk tahun 1983.


Sound yang diperkenalkan ketiga band ini adalah drum yang sangat cepat, menderu dan konsisten dengan blast-beat, riff secepat halilintar, dan vokal growl rendah serta parau yang dikombinasikan dengan teriakan tinggi yang memekakkan telinga.
Isi liriknya sebagian besar membawa tema gore dan setan. Beberapa event penting terjadi di tahun 80-an. Death memulai terbentuknya scene death metal di Florida, nantinya hal ini berpengaruh terhadap berdirinya dua band inovatif lain di kota yang sama di era 80-an yakni Morbid Angel dan Obituary.
Possessed membantu menanamkan tema satanisme sebagai tema lirik utama, serta berpengaruh terhadap berdirinya band-band death metal di California. Master membantu berdirinya scene death metal di North East (Illinois, New York, Pennsylvania, dsb).

Di samping tiga inovator tersebut (Death, Possessed, Master), ada beberapa band penting lain yang juga bermunculan di era 80-an yang kelak akan menjadi band death metal yang sangat diperhitungkan. Band-band itu antara lain Morbid Angel, Obituary, Deicide, dan Cannibal Corpse. Kita akan membicarakan band-band itu nanti.
Ciri musik:

1. Growl yang rendah dan parau serta teriakan bernada tinggi.
2. Gitar yang disetel rendah, penuh distorsi.
3. Bass yang gelap dan garang.
4. Drum yang bertempo sangat cepat, blast-beat.
5. Secara keseluruhan, sound-nya sangat dekat dengan sound genre ayahnya, yakni Thrash Metal.

Album penting:

1. Death "Scream Bloody Gore"
2. Possessed "Seven Churches"
3. Master "Master"
4. Obituary "Slowly We Rot"
5. Morbid Angel "Altars Of Madness"

Death Metal Gelombang Kedua (1990 - 1999)

Masa kedua adalah sebuah era di mana death metal benar-benar mulai populer. Banyak hal terjadi di era ini; bermunculannya band-band penting, perubahan dalam sound, dan merebaknya kontroversi di sekitar aliran ini. Pada kenyataannya banyak sekali peristiwa penting terjadi di masa ini, saya akan mencoba memecahnya berdasarkan tahun. Jangan kaget apabila saya mengganti pokok pembicaraan terlalu tiba-tiba.

Pada tahun 1990, Death merilis "Spiritual Healing", sebuah album dengan tema yang agak lain dibanding tema album death metal saat itu. Di album ini mereka lebih berfokus pada isu sosial dan filosofis, tidak lagi darah dan gore seperti dua album mereka sebelumnya. Deicide merilis album debutnya, "Deicide". Album ini benar-benar mengangkat satanisme ke tingkat yang sangat ekstrim. Satanisme yang sangat serius, bukan satanisme murahan yang pernah anda temukan dalam album-album Venom. Bisa jadi saya terlalu melebih-lebihkan saja karena saya fans Deicide.

Yang jelas album ini sangat sukses di kalangan underground, karena musiknya yang catchy dan mengesankan. Di tahun yang sama Cannibal Corpse mengeluarkan album pertamanya, "Eaten Back To Life". Album ini memperkenalkan sebuah gaya baru dalam growl yang disebut 'The Cookie Monster' yang dibawa oleh vokalis mereka, Chris Barnes. Dalam growl gaya ini, suara yang dikeluarkan lebih kasar dan dalam, mirip dengan vokal sebuah tokoh dalam Sesame Street, the Cookie Monster. Dan karena gaya vokal ini mengeluarkan sound yang agresif dan jahat, kata-kata yang diucapkan vokalis menjadi lebih susah ditangkap. Kelak gaya vokal ini akan menjadi penanda utama atau atribut paling mudah dikenal orang saat mereka membicarakan death metal.

Sekarang kita masuk ke tahun 1991. Tahun ini menjadi saksi munculnya brutal death metal, yang dimainkan oleh dua inovator utama aliran ini, Suffocation dan Immolation. Genre ini dicirikan oleh growl yang rendah dan ultra-berat, dan penekanan ekstra pada bass, gitar dengan setelan rendah, dan penggunaan bass drum yang lebih intense. Genre ini, meski kelihatannya amat simpel, namun untuk memainkannya membutuhkan ketrampilan teknis dan penguasaan musik yang tinggi. Dua album brutal death metal yang dirilis di tahun ini adalah "Effigy Of The Forgotten" dari Suffocation dan "Dawn Of Possession" milik Immolation.



Tahun 1992 tercatat sebagai tahun di mana death metal mulai menunjukkan kesuksesan komersil. Dimulai dengan album masterpiece dari Obituary, "The End Complete". Album ini terjual 250.000 kopi di seluruh dunia, termasuk salah satu album death metal paling laris sepanjang masa. Ada beberapa faktor yang berperan dalam kesuksesan album ini. Pertama adalah label. Obituary dikontrak oleh Roadrunner Records, sebuah label cukup besar yang menjadi rumah bagi band-band death metal terdahulu. Roadrunner memiliki modal untuk mencetak banyak kopi dan mampu mengedarkannya ke para distributor.



Kedua adalah basis penggemar yang luas. Obituary telah memiliki basis fans yang hebat saat album mereka keluar. Ketiga adalah fakta bahwa di tahun yang sama, Obituary melakukan tur bersama band death metal terkenal lain, Cannibal Corpse. Album sukses lain yang keluar tahun tersebut adalah "Legion" dari Deicide.



Album ini juga dirilis oleh Roadrunner Records dan didistribusikan luas ke seluruh belahan dunia. Album paling inovatif pada tahun tersebut adalah "Soul Of A New Machine" dari Fear Factory. Rilisan ini adalah album death metal pertama yang mengenalkan vokal bersih, suatu langkah yang dianggap tabu bertahun-tahun sebelumnya. Terobosan ini akan menjadi jalan bagi banyak band death metal untuk melakukan inovasi mencengangkan dalam aliran ini kemudian.




Melangkah ke tahun 1993. Peristiwa paling menonjol di tahun ini adalah rilisan album "Covenant" milik Morbid Angel. Dianggap penting sebab itu adalah album death metal pertama yang dirilis oleh label besar, mencatatkan Morbid Angel sebagai band death metal pertama yang bergabung dengan label besar. Label yang mengontrak mereka adalah Giant Records. Meski tidak tampak seperti label besar namun Giant Records ditopang oleh Warner Brother Records, salah satu label rekaman terbesar di dunia.



Sekarang saatnya mengoper persneling. Di tahun 1994, Cannibal Corpse merilis "The Bleeding", album rekaman terakhir mereka bersama vokalis Chris Barnes. Cryptopsy meluncurkan "None So Vile", salah satu album death metal terbaik yang pernah dihasilkan oleh band Kanada. Di tahun 1995, Suffocation mengeluarkan "Pierced From Within", yang dengan cepat menjadi album death metal klasik.

Melompat ke tahun 1998, kita akan menemukan band pionir death metal dari Florida, Death, merilis album terakhir mereka "The Sound of Perseverance". Album ini memperlihatkan puncak pencapaian band ini. Sound mereka bergeser dari death metal menjadi lebih progressive metal. Album ini merangkum teknik perkusi rumit dari sosok terkenal Richard Christy, performa bass luar biasa Scott Clendenin, serta permainan gitar yang kompleks dan dalam oleh duo Shannon Hamm dan Chuck Schuldiner. Ini adalah album yang benar-benar memberi definisi baru genre death metal. Sama pentingnya dengan "The Sound of Perseverance", adalah "Gore Metal", debut album milik Exhumed. Dianggap penting karena album ini juga merekam perkembangan genre musik. Gore Metal berakar dari death metal, namun memiliki sound melodik lebih banyak dan riff yang catchy. Yang jelas, dalam album ini seringkali ada tiga vokalis yang berbeda, seperti Carcass di awal karirnya. Album ini segera menjadi inspirasi ribuan band lain untuk menirunya, dan memainkan jenis musik yang sama. Anyway, ini era yang ekspansif. Karena tak mungkin bagi saya untuk menjelaskan semua peristiwa yang terjadi di era tersebut pada halaman ini, saya akan berhenti di sini.

Ciri Musik:

1. Kemunculan brutal death metal
2. Berkembangnya progressive death metal
3. Membiaknya Gore Metal

Album Penting:

1. Death "The Sound Of Perseverance"
2. Morbid Angel "Covenant"
3. Deicide "Legion"
4. Cannibal Corpse "Eaten Back To Life"
5. Suffocation "Pierced From Within"
6. Immolation "Dawn Of Possession"
7. Exhumed "Gore Metal"

Death Metal Gelombang Ketiga (2000 - sekarang)

Ini adalah gelombang terkini dalam death metal. Di era ini kita bisa melihat bahwa death metal kembali memperoleh popularitasnya kembali di seluruh penjuru dunia. Ide-ide baru tumbuh subur dari dalam bawah tanah. Band-band baru menjejakkan langkah mereka menuju kerajaan baru. Rilisan penting pertama di era ini adalah album Morbid Angel "Gateways to Annihilation" di tahun 2000. Album ini meneruskan pengaruh progressive death metal yang dibawa Death. Album lain yang dirilis di tahun yang sama adalah "Insineratehymn", sebuah karya yang menancapkan kembali pengaruh Deicide.

Tragedi menimpa masyarakat death metal pada 2001 dengan kematian Chuck Schuldiner karena kanker otak.
Komunitas death metal berduka karena kehilangan salah satu sosok pionir dan pemikir terbaiknya. Melangkah ke 2002, kita menyaksikan lebih ekspansifnya penyebaran gore metal, seiring rilisan kaya inovasi "Mondo Medicale" dari Impaled. Tak dapat dilepaskan dari pengaruh hebat Carcass, Impaled membangun genre gore metal dengan melodi dan kemampuan bermusik yang prima. Death metal terus berkembang di tahun 2003, saat Exhumed meluncurkan "Anatomy Is Destiny".



Dalam album ini riff menjadi bagian wajib, skill juga makin mendapatkan fokus yang lebih besar, dan pengaruh band-band Swedish death metal makin kentara. Saat ini kita tengah hidup di era gelombang ketiga death metal dan keadaan senantiasa berubah. Kita belum tahu ke mana gelombang ini akan membawa kita, jadi kita tunggu saja.

Who Said Death Metal Is Dead?!

Mendekati akhir dari laporan ini, kita mesti ingat bahwa death metal terus berkembang dalam tempo yang cepat, dan terus berubah seiring waktu. Lima tahun dari sekarang barangkali informasi dalam tulisan ini akan jadi usang! Apabila anda menemukan kekeliruan dalam tulisan ini misalnya informasi yang tak lengkap atau ada peristiwa penting yang terlewatkan, itu semata-mata kelemahan saya dan mohon dimaafkan. Tapi saya tidak patut khawatir, sebab kita semua memiliki pemikiran yang berbeda-beda, dan niat saya menuliskan laporan ini bukanlah sebagai tugas namun untuk berbagi informasi bagi siapa saja yang ingin mengetahui sedikit tentang genre death metal dan agar yang saya tulis ini menjadi catatan di waktu mendatang.


Tulisan ini diterjemahkan dari situs Metal Storm. yang juga pernah di posting pada www.apokalip.com edisi Oktober 2007,Kupasan histori death metal dalam versi singkat dan personal, tapi tetap menarik dan boleh jadi acuan. Jika ingin referensi yang lebih lengkap lagi, kami rekomendasikan anda membaca buku "Choosing Death ; The Improbable History of Death Metal & Grindcore", karya Albert Mudrian [Feral House, 2004].